IKLHAS HATI

Senin, 12 Agustus 2013

Macam - Macam Ciri Kebahagiaan


1_Tiga Ciri Kebahagiaan
Posted on Juli 20, 2013 by Ari Wahyudi

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, menjadi orang yang bahagia adalah cita-cita setiap insan. Meskipun demikian banyak orang yang tidak mengetahui jalan dan kaidah untuk meraih kebahagiaan. Bagi sebagian orang bahagia dimaknakan dalam bentuk kemewahan dunia. Bagi sebagian lainnya, kebahagiaan diartikan dengan popularitas dan ketinggian kedudukan di mata manusia.
Perbedaan sudut pandang itulah yang menggiring manusia untuk menempuh jalan yang berbeda-beda dalam mencari kebahagiaan yang mereka sangka. Bagi mereka yang memandang harta sebagai kunci bahagia maka mengejarnya dengan cara apapun adalah jalan untuk menggapainya. Bagi mereka yang menilai bahwa kebahagiaan ada pada kedudukan dan jabatan maka segala cara untuk mendapatkan tampuk kekuasaan dan kepimpinan adalah jembatan menuju bahagia menurut mereka.
Bagi insan beriman, tentu saja kebahagiaan itu ada pada nilai-nilai ibadah dan penghambaan kepada Allah ta’ala. Sebab Allah telah menjadikan kebahagiaan dan ketentraman bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Allah ta’ala juga menegaskan (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’aam: 82)
Allah ‘azza wa jalla juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])
Tonggak-tonggak kebahagiaan itu berporos pada tiga perkara:
  1. Bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya
  2. Bersabar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa
  3. Memohon ampunan dari dosa-dosa yang dilakukan
Demikianlah tanda-tanda kebahagiaan pada diri seorang hamba, sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam mukadimah risalah beliau al-Qawa’id al-Arba’ [empat kaidah pokok] dan telah diutarakan sebelumnya oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di bagian awal kitabnya al-Wabil ash-Shayyib wa Rafi’ al-Kalim ath-Thayyib.
Syukur, sabar, dan istighfar. Inilah tiga ciri kebahagiaan. Ibnul Qayyim rahimahulllah mengatakan, “Sesungguhnya ketiga perkara ini adalah pertanda kebahagiaan seorang hamba, itulah tanda akan keberuntungan dirinya di dunia dan di akhirat…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5 cet. Dar ‘Alam al-Fawa’id)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada diantara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istighfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan taubat dan istighfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)
Mensyukuri Nikmat Allah
Syukur dibangun di atas tiga perkara:
  1. Mengakui dari dalam hati bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah
  2. Mengungkapkan pujian kepada-Nya atas nikmat tersebut dengan ucapan lisan
  3. Memanfaatkan nikmat-nikmat itu dalam rangka menggapai keridhaan Dzat yang telah melimpahkannya; yaitu Allah ta’ala (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5-6)
Dengan ungkapan lain, bisa dikatakan bahwa syukur itu diwujudkan dengan tiga sarana, yaitu lisan, hati, dan anggota badan (lihat Transkrip Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Abdul ‘Aziz ar-Rajhi hafizhahullah, hal. 6)
Para ulama menjelaskan, bahwa antara syukur dan pujian[al-hamdu] memiliki sedikit perbedaan. Syukur dilakukan sebagai tanggapan dan ungkapan rasa terima kasih atas nikmat yang diberikan. Adapun pujian bisa saja muncul bukan karena nikmat atau pemberian namun karena kesempurnaan Dzat yang dipuji. Syukur diwujudkan melalui lisan dan perbuatan, sedangkan pujian hanya dalam bentuk ucapan lisan (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih alusy Syaikh hafizhahullah, hal. 5)
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan setiap orang yang bersyukur.” Abu Nashr al-Jauhari mengatakan, “Alhamdu/pujian adalah lawan dari celaan.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/29]).
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma juga mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan syukur. Apabila hamba mengucapkan alhamdulillah, Allah pun mengatakan, “Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku.”.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/30])
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Pujian itu ada dua macam: pujian atas kebaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka itu adalah bagian daripada syukur. Lalu, pujian kepada-Nya atas sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki-Nya.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 234, lihat juga Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 23-24)
Syukur lebih luas daripada sekedar mengucapkan alhamdulillah (pujian). Sebab syukur meliputi amalan hati, lisan, dan anggota badan. Namun, apabila dilihat dari sisi sebabnya pujian lebih luas daripada syukur. Karena Allah terpuji bukan hanya disebabkan nikmat yang dikaruniakan-Nya. Akan tetapi Dia juga terpuji karena kesempurnaan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya (lihat al-Is’ad fi Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 14)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apa pun nikmat yang ada pada kalian adalah datang dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Termasuk dalam bentuk nikmat -yang harus kita syukuri- adalah ketaatan yang telah kita lakukan. Ini semuanya adalah anugerah dan nikmat dari Allah. Bahkan, nikmat iman dan ketaatan ini adalah nikmat yang lebih agung daripada nikmat-nikmat keduniaan. Oleh sebab itu sudah semestinya kita senantiasa mensyukurinya (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah, hal. 8)
Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.” (lihat Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 48).
Mensyukuri nikmat Allah -termasuk di dalamnya nikmat ketaatan- secara lisan adalah dengan menyandarkan nikmat-nikmat tersebut kepada Dzat yang telah memberikannya, memuji-Nya, dan tidak berpaling/menyandarkan nikmat itu kepada selain-Nya (lihat Transkrip Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih alusy Syaikh, hal. 5)
Adapun mensyukuri nikmat Allah dengan perbuatan, misalnya:
  1. Jika nikmat itu berupa harta, hendaklah mensedekahkan sebagian darinya, sebab dengan sedekah harta justru berkembang
  2. Jika nikmat itu berupa ilmu, hendaklah ilmu/kebaikan itu diajarkan kepada orang lain dalam rangka mencari pahala dan supaya orang lain bisa merasakan kebaikan sebagaimana yang telah dia rasakan, sebab tidaklah sempurna iman sampai kita mencintai kebaikan bagi saudara kita sebagaimana apa yang kita cintai untuk diri kita
  3. Jika nikmat itu berupa kesehatan maka hendaknya digunakan sebaik-baiknya dalam ketaatan dan mencari ridha Allah supaya tidak termasuk orang yang tertipu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua buah nikmat yang membuat banyak orang tertipu, yaitu kesahatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih al-Luhaidan hafizhahullah, hal. 3-4)
Kebanyakan orang apabila diberikan nikmat oleh Allah, maka mereka justru kufur/menutup-nutupi hal itu, mengingkari -tidak mengakui karunia Allah atasnya- dan malah menggunakan nikmat itu tidak dalam ketaatan kepada Allah. Oleh sebab itulah -akibat tidak bersyukur- mereka terjatuh dalam kebinasaan. Adapun orang yang bersyukur maka Allah tambahkan kepadanya nikmat-Nya (lihat Transkrip Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, hal. 5)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kalian bersyukur maka pasti akan Aku tambahkan nikmat kepada kalian, akan tetapi jika kalian kufur/ingkar maka sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Allah ta’ala berfirman pula (yang artinya), “Betapa sedikit hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Muhammad bin Ka’ab rahimahullah menjelaskan maksud ayat (yang artinya), “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13). Kata beliau, “Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (lihat Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 65).
Muhammad bin al-Hasan rahimahullah menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, “Apakah puncak syukur itu?”. Aku menjawab, “Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.” Lalu dia mengatakan, “Jawabanmu tepat, wahai anak muda.” (lihat al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah ditanya tentang makna zuhud di dunia, beliau menjawab, “Jika dia mendapatkan nikmat maka bersyukur dan jika dia mendapatkan cobaan musibah maka dia pun bersabar. Itulah zuhud.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/78])
Sabar Dalam Menghadapi Musibah
Sabar menempati kedudukan yang sangat agung di dalam Islam. Sampai-sampai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Sabar di dalam agama laksana kepala bagi tubuh. Sehingga, tidak ada iman pada diri orang yang tidak punya kesabaran sama sekali.” (lihat I’anat al-Mustafid [2/107 dan 109])
Sebelumnya patut untuk kita ketahui, bahwa pada dasarnya sabar itu mencakup sabar ketika tertimpa musibah dan juga sabar ketika mendapatkan nikmat. Sabar ketika mendapatkan nikmat maksudnya adalah tidak menggunakan nikmat itu kecuali dalam ketaatan. Termasuk di dalamnya adalah sabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya yang berkaitan dengan nikmat tersebut. Inilah sabar yang menjadi senjata untuk menangkal fitnah syahwat.
Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu berkata, “Kami diuji dengan kesulitan maka kami pun bisa bersabar, akan tetapi tatkala kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bisa bersabar.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 342)
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Sumber dari semua fitnah [kerusakan] adalah karena mendahulukan pemikiran di atas syari’at dan mengedepankan hawa nafsu di atas akal sehat. Sebab yang pertama merupakan sumber munculnya fitnah syubhat, sedangkan sebab yang kedua merupakan sumber munculnya fitnah syahwat. Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan [ilmu], sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan sabar dan keyakinan akan dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat…” (lihat Ighatsat al-Lahfan hal. 669)
Yang dimaksud sabar ketika tertimpa musibah adalah sebagaimana dikatakan oleh Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah. Beliau berkata, “Hakikat sabar adalah tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah (karena merasa tidak puas terhadap takdir, pent) maka hal itu tidaklah meniadakan kesabaran.” (lihat Syarh Muslim [3/7])
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-Baqarah: 155-157)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui.” (QS. at-Taghabun: 11).
‘Alqomah berkata tentang maksud ayat ini, “Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, maka dia menyadari bahwa hal itu datang dari Allah, oleh sebab itu dia pun merasa ridha dan pasrah.” (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 345-346)
Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila tertimpa kesulitan dia bersabar, maka hal itu juga kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)
Pengaruh Sabar dan Syukur
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sabar dan syukur menjadi sebab seorang hamba untuk bisa memetik pelajaran dari ayat-ayat yang disampaikan kepadanya. Hal itu dikarenakan sabar dan syukur merupakan pondasi keimanan. Separuh iman itu adalah sabar, separuhnya lagi adalah syukur. Kekuatan iman seorang hamba sangat bergantung pada sabar dan syukur yang tertanam di dalam dirinya. Sementara, ayat-ayat Allah hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan meyakini ayat-ayat-Nya. Imannya itu pun tidak akan sempurna tanpa sabar dan syukur. Pokok syukur itu adalah tauhid. Adapun pokok kesabaran adalah meninggalkan bujukan hawa nafsu. Apabila seseorang mempersekutukan Allah dan lebih memperturutkan hawa nafsunya, itu artinya dia belum menjadi hamba yang penyabar dan pandai bersyukur. Oleh sebab itulah ayat-ayat yang ada menjadi tidak bermanfaat baginya dan tidak akan menumbuhkan keimanan pada dirinya sama sekali.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [1/145])
Istighfar dan Taubat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertaubat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah [2] : 222).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Maa’idah [5] : 74).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur [24] : 31).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 49-50 tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Dari al-Agharr bin Yasar al-Muzani radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 50 tahqiq Syaikh Ali al-Halabi)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 50 tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum berada di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 51tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata, “Tidakkah engkau melihat umat manusia, betapa banyaknya mereka? Tidak ada yang baik diantara mereka kecuali orang yang bertakwa atau orang yang bertaubat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 225)
Masruq rahimahullah berkata, “Semestinya seorang memiliki kesempatan-kesempatan khusus untuk menyendiri lalu mengingat-ingat dosanya dan memohon ampunan kepada Allah atasnya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [1/23])
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan, “Kalau seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau busuk niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 82)
Ibnul Mubarak rahimahullah berkata dalam syairnya,           
Kulihat tumpukan dosa mematikan hati
Mengidapnya membuat diri bertambah hina
Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati
Yang terbaik untukmu tentu mencampakkannya
(lihat Tazkiyat an-Nufus, hal. 32)
Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.” (lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 69)
Habib Abu Muhammad rahimahullah berkata, “Salah satu tanda kebahagiaan bagi seorang hamba adalah apabila dia mati maka ikut mati pula dosa-dosanya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)
Catatan ini telah ditulis dalam Bersih Jiwa, Kaidah Penting dan di-tag dengan Amalan, Dosa, Fitnah, Hawa Nafsu, Ibadah, Ibnul Qayyim, Iman, Islam, Istighfar, Maksiat, Sabar, Syahwat, Syubhat, Syukur, Taubat, Wahabi. Penunjuk permalink.


2_7 Ciri Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wa sallam yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam , dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid.
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam ) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah Subhanahu Wa ta’ala, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam yaitu :“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam lagi thawaf. RasulullahShalallahu Alaihi Wa sallam bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi Shalallahu Alaihi Wa sallam , “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sesering dan se-khusyu’mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam .
Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah.Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.Kata Nabi Shalallahu Alaihi Wa sallam , “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya :“Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi Shalallahu Alaihi Wa sallam kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Insya Allah, amiin.
sumber: bukan siapa siapa.multiply.com




















3_CIRI-CIRI ORANG DAPAT KEBAHAGIAAN

    DUNIA DAN AKHIRAT

Catatanku ini mengenahi apa yang pernah saya dengar sewaktu pengajian, yaitu masalah ciri-ciri orang yang bahagia di dunia dan akhirat. ada 5 ciri yaitu.
  1. Hidup zuhud di dunia dan mengharap akhirat, sedangkan ciri-ciri zuhud adalah : ” Tidak bahagia dengan tambahnya rezeqi dan tidak susah dengan berkurangnya rizqi.”
  2. Tujuan hidupnya hanya ibadah dan membaca Al-Qur’an
  3. Berbicara pada hal-hal yang perlu saja. / sebagaimana hadist Nabi ” Berbicaralah yang baik atau Diam.”
  4. Menjaga Sholat lima waktu dengan berjama’ah.
  5. Ridho dengan pemberian Allah baik sedikit atau banyak.
Sebenarnya ke 5 ciri diatas merupakan barometer tentang seberapa jauh ketakwaan kita kepada Allah. Diantara sekian ciri-ciri, mungkin belum ada pada diri kita, ataukah hanya beberapa ada yang sudah ada pada diri kita, ataukah malah ngak ada sama sekali. Nah dengan barometer diatas mengindikasikan bahwa ketakwaan kita kepada Allah adalah setingkat apa yang telah kita laksanakan. Marilah kita selalu meningkatkan ketakwaan di hadapan Allah, sehingga kita memperoleh derajat Muttaqin. Amin













4_Ciri-ciri Orang yang Akan Mendapatkan Kebahagiaan

Indah Mulya | Tuesday, July 15th, 2008
Tidak ada diantara kita yang tidak ingin menggenggam kebahagiaan dan sering kali kita membaca do’a untuk mendapatkan kebahagiaan baik dunia maupun akhirat “robbanaa atfnaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qina adzaabannaar“. Ya Allah Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka.
Nabi Muhammad SAW pernah memberikan gambaran yang dapat kita jadikan cermin untuk melihat dan untuk mengintrospeksi diri kita masmg-masing, beliau pernah menggambarkan tentang ciri-ciri orang yang akan mendapatkan kebahagiaan itu adalah :
1. Dzikru min azabillah
Ingat dengan dosa-dosa yang telah ia lakukan. Selanjutnya Rasul menyampaikan bahwa orang yang akan celaka adalah dia lupa dengan dosa-dosa yang pernah dia perbuat padahal disisi Allah itu tersimpan dengan rapi karena didokumentasikan dengan sempurna oleh Malaikat Rokib dan Atib.
Orang yang akan mendapatkan kebahagiaan ingat akan dosa-dosa yang pernah ia lakukan, bahkan menurut Abu Bakar Ashidiq ra, mengatakan orang yang bahagia “merasa besar akan kesalahan-kesalahan serta dosanya, bahkan salah satu ayat yang berbicara tentang orang-orang yang akan bahagia dan orang-orang yang taqwa dalam tafsir Al Thobari, bahwa ia merasa mendapatkan kejelekan yang sangat luar biasa dari perbuatan maksiat dan perbuatan dosa”, namun para ulama banyak yang menjelaskan “perbuatan dan perkataan yang jelek, itulah yang disebut fahisyah, sementara menurut para ulama mengatakan fahisyah itu dzolim pada diri sendiri.
Orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan acapkali saat melakukan perbuatan dosa dia selalu ingat kepada Allah dan takut akan siksa Allah dan dzat yang sangat jauh yang tidak ada cela sama sekali, menyampaikan bahwa orang yang akan celaka adalah dia lupa dengan dosa-dosa yang pernah dia perbuat padahal disisi Allah itu tersimpan dengan rapi karena didokumentasikan dengan sempurna oleh Malaikat Rokib dan Atib.
Orang bahagia ingat akan dosa-dosa yang pernah ia lakukan, bahkan menurut Abu Bakar Ashidiq ra, orang yang bahagia “merasa besar akan kesalahan-kesalahan serta dosanya”, bahkan salah satu ayat yang berbicara tentang orang-orang yang akan bahagia dan orang-orang yang taqwa dalam tafsir Al Thobari, “ia merasa mendapatkan kejelekan yang sangat luar biasa dari perbuatan maksiat dan perbuatan dosa“, namun para ulama banyak yang menjelaskan perbuatan dan perkataan yang jelek, itulah yang disebut fahisyah. Sementara menurut para ulama mengatakan, fahisyah itu dzolim pada diri sendiri.
Orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan acapkali saat melakukan perbuatan dosa dia selalu ingat kepada Allah dan takut akan siksa Allah dan dzat yang sangat jauh yang tidak ada cela sama sekali, kemudian mereka mohon ampun pada Allah. Jadi orang-orang yang bahagia itu adalah orang yang selalu ingat akan dosa-dosa yang pernah ia lakukan, mesti dosa itu sangat kecil ia senantiasa memperbanyak istigfhar mohon ampun kepada Allah.
Nabi Muhammad SAW memberikan contoh. Beliau adalah sosok manusia yang diampuni dosa-dosanya surga telah menanti, tetapi beliau sendiri tidak kurang 70 kali setiap hari mohon ampun kepada Allah SWT. Dalam riwayat lain tidak kurang dari 100 kali mohon ampun kepada Allah, ini pula diikuti oleh orang-orang sholeh.
Imam Khodadah yang mengartikan bahwa orang-orang saleh itu sedikit tidur diwaktu malam dan memperbanyak sujud di malam hari dan sholat malam bahkan dipenghujung malam mereka mohon ampun kepada Allah bukan hanya kepada keluarganya saja akan tetapi untuk memohon ampun untuk kaum muslimin.
2. Nisyanul hasanatil maadiyah
Orang yang akan mendapatkan kebahagiaan melupakan amal-amal baik yang ia lakukan. Berbeda dengan orang-orang yang akan mendapatkan kecelakaan yang selalu ingat akan kebaikan yang pernah ia perbuat. Orang yang akan celaka selalu ingat kebaikan yang ia perbuat meski amal baiknya sangat kecil dan dia tidak mengetahui apa perbuatan baiknya itu diterima oleh Allah SWT atau justru ditolak.
Orang-orang yang akan menggenggam kebahagiaan merasa sedikit amal kebaikan amat sangat tidak berbanding antara kenikmatan amat luar biasa yang Allah SWT berikan, jika engkau menghitung-hitung tentang nikmat dan karunia Allah yang engkau terima tidak mungkin engkau bisa menghitungnya.
Dalam surat Ibrahim ayat 34 disebutkan, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat“. Asma binti Abu Bakar, kakak ipar Rasulullah SAW – kakaknya Siti Aisyah namun lain ibu, pernah dinasehati oleh Rasul “janganlah engkau menghitung-hitung amal mu kepada Allah, janganlah engkau merasa banyak amal mu nanti juga Allah SWT bisa berhitung kepadamu. Tiap detik, menit dan jam berapa karunia dari Allah yang engkau terima, tiap detik pula berapa banyak amal ibadahmu kepada Allah amat sangat tidak berbanding. Terlalu banyak karunia Allah yang
sudah Allah berikan kepada kita dan teiialu sedikit amal ibadah kita kepada Allah SWT.
3. Wanadzruhuu illa man fauqohuu fiddinn
Jika sudah urusan agama dia selalu melihat ke-atas yaitu dia selalu melihat orang yang lebih hebat dan kalau dia sudah mampu melakukan sholat 5 waktu dengan mantap, dia melihat orang-orang sholat dhuhanya lebih hebat dari dia, kalau dia sudah mampu, dia melihat orang-orang yang sujudnya di waktu malam cukup banyak. Kalau toh dia sudah mampu, ia akan melihat orang-orang yang di atasnya mungkin ibadah kita sebelum seberapa dibandingkan dengan Robiatul Addawiyah yang setiap malam dalam sejarahnya tidak kurang 400 rakaat sujud kepada Allah SWT.
Kalau toh kita sudah banyak infaq dijalan Allah, hal itu belum seberapa bila dibandingkan infaqnya sahabat Rasul yaitu Abu Bakar Shidiq ra. Kalau kita sudah membela agama-agama Allah yang dihina oleh orang kafir quraisy mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan para sahabat dan tabiin yang berusaha meluruskan orang-orang yang berusaha membengkokkan ajaran Allah SWT. Mungkin belum seberapa apa yang pernah kita lakukan.
Kalau sudah menyangkut urusan agama orang yang akan mendapatkan kebahagiaan selalu melihat ke atas, namun kalau sudah urusan dunia dia melihat orang yang ada di bawahnya. Dia tidak melihat ke atas agar senantiasa mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan. Memang usaha harus semaksimal mungkin, tetapi yang mempunyai ketentuan adalah Allah SWT, yang menggengam segalanya serta yang menentukan segalanya adalah Allah SWT, acapkali jika Allah sudah menentukan orang-orang yang akan bahagia senantiasa menerima dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan.
Orang tersebut sadar betul dunia memang seringkali membuat kita terkecoh, dan Allah SWT sendiri telah mengingatkan kepada kita bahwa jangan sampai kesenangan dunia membuat engkau tertipu, terlalu banyak orang yang selalu mengejar target lalu harus mengobrak-abrikkan tatanan hukum Allah hanya untuk mengejar kekayaan, kemewahan, kekuasaan serta kemegahan kemudian melanggar aturan-aturan Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT menggambarkan dalam surat Al Hadid yang artinya “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendaugurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan diakhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu“.
Kalau sudah urusan dunia ia tidak melihat ke atas agar senantiasa selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Mudah-mudahan semua ini dapat kita jadikan renungan dan pelajaran agar kita termasuk orang-orang dan akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kelak, amin.
Sumber : Indah Mulya Edisi No. 480 Th. VI – 6 Juli 2008

5_ciri-ciri kebahagiaan
Di antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah :
Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya.
Setiap bertambah amal-amal shalih yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah Allah.
Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah ambisi-ambisi keduniannya. Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya kepada sesama.
Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati kepada mereka.
Sebaliknya, ciri-ciri kecelakaan adalah :
Ketika bertambah ilmu pengetahuannya, semakin bertambah kesombongannya.
¯) .♥
Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannyapada diri sendiri dan penghinaannya pada orang lain.
Semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kesombongannya.
(Al Fawa-id, Imam Ibnul Qayyim)









6_Ciri-ciri kebahagiaan..

jaSLI aYu HumaIRa Bt SaLiM
  1. Sayangi dia dengan hati, bukan dengan perasaan. Jika anda meletakkan sesuatu perhubungan berdasarkan perasaan, ianya akan gagal kerana perasaan sentiasa berubah dari masa ke semasa.
  2. Sayangi dia seadanya. Di dunia terdapat hampir 6 billion manusia dengan 6 billion personaliti. Dia sememangnya seorang yang istimewa dan biarkan ianya kekal begitu. Jangan sesekali terfikir untuk mengubah apa-apa tentang dia kerana sekali anda mengubah, selamanya anda akan terus mengubah dirinya. Tentu anda masih ingat, anda terpikat padanya kerana dia adalah dia. Maka, tiada alasan untuk anda mengubah dia untuk menjadi seseorang yang lain.
  3. Sayangi dia sepenuh hati. Sesungguhnya dia telah banyak bekorban untuk anda. Dengan kelebihan yang ada padanya, dia berpeluang untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih sempurna tapi demi cinta, dia telah memilih diri anda. Maka,jangan sesekali cuba untuk mempermain-mainkan keluhuran cintanya.
  4. Hormati pendirian dan keputusan dia. Jangan anda merayu dan jangan mencipta alasan supaya dia menerima cinta anda kerana kelak, yang anda akan dapat darinya hanyalah cinta simpati dan bukannya cinta setulus hati.
  5. Yakinkan diri anda akan keistimewaan dia. Dia adalah satu-satunya di dunia ini dan jangan mengharapkan kesempurnaan dari diakerana dia telahpun cukup sempurna semenjak anda mula terpikat padanya.
  6. Percaya akan dirinya. Sentiasa bersangka baik padanya jika kita juga mahukan sebegitu darinya. Pastikan anda akan sentiasa meletakkan diri anda ditempatnya sebelum melakukan apa-apa. Jika anda sendiri tidak dapat menerimanya, apatah lagi dia.
  7. Jangan berjanji menyayangi dia untuk selama-lamanya kerana selama-lamanya bagi anda mungkin akan berakhir keesokkan harinya, tapi berjanjilah untuk menyayangi dirinya seolah-olah setiap hari itu adalah hari yang terakhir untuk anda berdua.
  8. BERCINTA dengannya adalah seperti memberi hati anda kepadanya untuk dilukai tapi kepercayaan itu penting. Percayalah kepadanya, nescaya dia akan melindunginya sepenuh jiwa dan raga.
  9. Jangan sesekali meninggalkan dia tanpa sebarang alasan.Dia bukan hanya akan setakat menangis kecewa dan kemudiannya meneruskan hidup seperti biasa, ketahuilah bahawa jiwanya akan mati secara perlahan.
  10. Jangan cepat berbangga dengan diri anda,memenangi hatinya bukanlah satu kejayaan yang mutlak tetapi anugerah itu hanya layak anda perolehi setelah anda berjaya menyayanginya sehingga ke akhir hayat. Ketahuilah, dia memilih anda adalah kerana diapercaya bahawa anda adalah seorang yang jujur dan akan menepati janji.Anda telah bersusah payah dan berusaha sedaya upaya untuk memenangi cintanya, maka dengan itu haruslah juga anda berusaha untuk terus menyintai dirinya dengan apa jua keadaan sekalipun

Selasa, 30 Juli 2013

LARANGAN ISBAL


LARANGAN ISBAL

Kain Atau Seluar Yang Labuh Menutupi Mata Kaki



Jangan melebihi mata kaki.
Ramai di kalangan muslimin langsung tidak ambil berat, malah ada yang langsung tidak tahu menahu tentang larangan isbal. Mereka solat dengan kain atau seluar labuh menutup mata kaki. Sedangkan ia dilarang keras baik ketika solat mahupun di luar solat.

Isbal ertinya melabuhkan kain atau seluar hingga menutupi mata kaki, dan hal ini dilarang secara tegas baik kerana sombong ataupun tidak. Larangan isbal bagi laki-laki telah dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW yang sangat banyak, maka selayaknya bagi seorang muslim yang redha Islam sebagai agamanya untuk menjauhi hal ini.

Namun ada sebahagian kalangan yang dianggap berilmu, menolak (larangan) isbal dengan alasan yang rapuh iaitu dengan niat “tidak sombong” - maka diperbolehkan?! Untuk lebih jelasnya, berikut dipaparkan perkara yang sebenarnya tentang isbal agar menjadi panduan bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Salah satu kewajiban seorang muslim adalah meneladani Rasulullah SAW dalam segala perkara, termasuk dalam masalah pakaian.

Rasulullah telah memberikan batas-batas syar'I terhadap pakaian seorang muslim, perhatikan hadits-hadits berikut:. Rasulullah SAW bersabda :Ertinya : “Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun dibawah mata kaki maka bahagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik pakaiannya kerana sombong maka Allah tidak akan melihatnya” (Hadits riwayat Imam Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah 4331)

Berkata Syaroful Haq Azhim Abadi rahimahullah: “Hadits ini menunjukkan bahwa yang sunnah hendaklah kain atau seluar seorang muslim adalah hingga setengah betis, dan dibolehkan turun dari setengah betis hingga di atas mata kaki. Apa saja yang dibawah mata kaki maka hal itu terlarang dan haram. [Aunul Ma’bud 11/103]

Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata. Ertinya : Rasulullah SAW memegang otot betisku lalu bersabda, “Ini merupakan batas bawah kain sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan juga, maka tidak ada hak bagi sarung pada mata kaki” [Hadits riwayat Imam Tirmidzi 1783, Ibnu Majah 3572, Ahmad 5/382, Ibnu Hibban 1447. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1765]

Dari Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata. “Aku melihat Nabi SAW keluar dengan memakai Hullah Hamro' seakan-akansaya melihat kedua betisnya yang sangat putih” (Hadits riwayat Imam Tirmidzi dalam Sunannya 197, dalam Syamail Muhammadiyah 52, dan Ahmad 4/308)

'Ubaid bin Khalid Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang di belakangku berkata, "Tinggikan sarungmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan." Ternyata dia adalah Rasulullah SAW. Aku pun bertanya kepadanya, "Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, "Tidakkah pada diriku terdapat teladan?" Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis”. (Hadits riwayat Imam Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syamail Muhammadiyah, hal. 69)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memanjangkan seluarnya hingga melebihi mata kaki. Beliau menjawab: “Panjangnya baju, seluar dan seluruh pakaian hendaklah tidak melebihi kedua mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadits-hadits Nabi SAW” (Majmu' Fatawa 22/14)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Walhasil, ada dua keadaan bagi laki-laki; dianjurkan yaitu menurunkan sarung hingga setengah betis, boleh yaitu hingga di atas kedua mata kaki. Demikian pula bagi wanita ada dua keadaan; dianjurkan yaitu menurunkan di bawah mata kaki hingga sejengkal, dan dibolehkan hingga sehasta” (Fathul Bari 10/320)

Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka azab yang pedih. Rasulullah menyebutkan tiga golongan tersebut berulang-ulang sebanyak tiga kali, Abu Dzar berkata : "Merugilah mereka! Siapakah mereka wahai Rasulullah?"

Rasulullah menjawab: "Orang yang suka memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu." [Hadits riwayat Imam Muslim 106, Abu Dawud 4087, Nasa'i 4455, Darimi 2608. Lihat Irwa': 900]

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi ersabda : "Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di dalam neraka." (Hadits riwayat Imam Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96)

Hadits-hadits di atas mengisyaratkan bahwa panjang pakaian seorang muslim tidaklah melebihi kedua mata kaki dan yang paling utama hingga setengah betis, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya sebagaimana di atas. Jika adab berpakaian bagi lelaki sedemikian di luar solat, apalagi sekiranya ia ketika mengerjakan solat!

Wallahhu’alam.....

Sila rujuk pada yg lebih arif jika ada kemuskilan....

Sebar2kan ilmu yg bermanafaat